Selamat datang di Berita Lampung Online

Kisah Astuti TKW Disiksa Majikan Di Malaysia Kaki Direndam Air Es

Sunday, July 4, 20100 komentar

Kisah Astuti TKW Disiksa Majikan Di Malaysia Kaki Direndam Air Es : Kasus majikan menyiksa tenaga kerja Indonesia terus bergulir. Ini seakan menjadi fenomena yang harus diterima warga negara Indonesia di negeri jiran, Malaysia saat menjadi tenaga kerja. Berangkat dengan kondisi fisik prima sepulang dari negeri perantauan justru meninggalkan derita dan trauma. Seperti dialami TKW asal Sekadau Paskary Astuti,16 tahun, yang tubuhnya menjadi sasaran siksaan majikan. Hingga membuat dirinya mesti menjalani perawatan intensif di RSUD Soedarso dengan menginap di ruang Enggang. Ketika ditemui pada Jumat (2/7) Astuti menghindar.

Seakan takut melihat kedatangan orang yang tidak dikenali. Meskipun kondisi fisiknya masih lemah. Putri tertua, buah hati Philipus, 40 itu tetap memaksakan diri menghindar dan enggan bicara. Dia hanya bisa menatap kosong sambil membelakangi tamu. Ayahnya sendiri, Philpus terpaksa merelakan kejiwaan Astuti berubah.

Hal yang berbeda sebelum berangkat menjadi tenaga kerja.Philipus menceritakan, Astuti bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Malaysia selama delapan bulan. Tetapi siapa nama majikan anaknya tak diketahui secara persis. Mula keberangkatan Astuti merantau dibawa kakak sepupunya, yang telah menjadi warga negara Malaysia karena ikut status suaminya. “Sepupunya menikah dengan orang Malaysia,” kata Philipus.

Menurut Philipus, kedua telapak tangan anaknya mengalami luka bakar karena kena panas strika. Jumlah gigi telah dalam keadaan tidak utuh lagi. Dengan nada parau, bapak tiga anak ini menuturkan, Astuti hanya sedikit bercerita kepadanya. Penderitaan lain yang Astuti alami dikurung majikan di toilet. “Kakinya direndam air es,” ujar Philipus. Diperkenankan keluar toilet saat majikan ingin mandi. Usai majikan mandi berarti Astuti mesti kembali ke toilet.

Sementara untuk makan, miris jika mendengar cerita Philipus. Sebab asupan makanan yang Astuti peroleh dari majikan adalah nasi campur garam. Sementara anaknya tak mampu menolak. “Jika menolak akan terus dipaksa sampai mau,” ujar Philipus. Dia menambahkan anaknya bisa kembali ke tanah air, majikan yang mengantar. Dengan mengantar hanya sampai di terminal Entikong. Tanpa menerima pesangon maupun gaji. “Majikan cuma mengantar habis itu udah. Kondisi anak saya saat itu kondisinya sangat lemah. Langsung dibawa ke Puskesmas terdekat. Sebelum dirujuk ke sini (Soedarso),” kata Philipus.
Share this article :

Post a Comment

Silahkan Anda Komentari Tulisan di blog ini, Maaf Tidak Untuk berpromosi atau dianggap spam

 
Copyright © 2011. Berita Lampung - All Rights Reserved
Template Created by Pakar Lampung Proudly powered by Blogger